Artikel ini mengkaji dinamika bisnis dan sistem peredaran film di Indonesia selama hampir 30 tahun, mulai dari pasca keruntuhan AMPAI pada tahun 1966 hingga munculnya dominasi jaringan bioskop modern pada akhir 1980-an. Fokus penelitian terletak pada transisi struktural mulai dari monopoli asing menuju sistem “raja-raja kecil” di daerah, serta pengaruh mentalitas “pedagang kaki lima” yang menghambat profesionalisme industri. Masalah utama yang dianalisis adalah penyebab ketidakseimbangan ekonomi antara film nasional dengan film impor dan kegagalan badan penyangga seperti PT Perfin dalam menciptakan stabilitas pasar. Melalui metode analisis dokumen sejarah perfilman dengan pendekatan New Film History, penelitian ini menemukan bahwa industri film Indonesia terjebak dalam kondisi “darurat permanen” akibat ketiadaan modal yang diputar kembali dan sistem bagi hasil yang timpang. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun jumlah bioskop dan penonton meningkat signifikan pada tiap dekade, keuntungan ekonomi pada periode ini ternyata lebih banyak dinikmati oleh pemilik bioskop dan importir daripada produser film nasional.
Copyrights © 2026