Penelitian ini mendekonstruksi konsep qaul (perkataan) dalam Al-Qur’an untuk merumuskan pondasi etika komunikasi di ruang virtual. Era digital mengubah pola interaksi manusia menjadi serba digital, namun sering kali diiringi dengan penurunan kualitas etika, seperti maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan siber. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dengan metode tafsir tematik (maudhu'i), penelitian ini membongkar makna tekstual mapan dari variasi istilah qaul dalam Al-Qur’an seperti qaulan sadidan, qaulan ma'rufa, dan qaulan layyinan, lalu mengontekstualisasikannya ke dalam realitas media sosial saat ini. Jenis Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif / studi pustaka (library research). Adapun Pendekatan Penelitian ini adalah Deskriptif-Kualitatif: Digunakan untuk mendeskripsikan, memetakan, serta menganalisis fenomena etika komunikasi virtual/media sosial (seperti cyberbullying, hate speech, hoaks, doxxing, dan online disinhibition effect) secara mendalam. Pendekatan Hermeneutika / Dekonstruksi: Digunakan untuk membongkar (deconstruction) pemaknaan tekstual mapan dari variasi konsep qaul dalam Al-Qur'an dan merekonstruksinya ke dalam konteks era digital/media sosial saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep qaul dalam Al-Qur'an tidak sekadar mengatur ucapan lisan, melainkan teks, visual, dan seluruh ekspresi digital. Rekonstruksi makna ini menghasilkan rumusan etika komunikasi virtual yang berbasis pada akurasi informasi (anti-hoaks), kesantunan digital, dan tanggung jawab moral siber. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai Al-Qur'an sangat adaptif dan mampu menjadi panduan etis yang kokoh demi menciptakan ekosistem digital yang sehat dan humanis.
Copyrights © 2026