The deification of Jesus has long been debated within Christian tradition and culminated in the Council of Nicaea in 325 CE, which affirmed Jesus as God. In contrast, Islam firmly rejects the divinity of the Prophet Jesus (Isa A.S.), regarding him as a servant of Allah, a prophet, and a messenger. This study aims to examine the concept of the divinity of Prophet Isa A.S. and explore the intertextual relationship between the Ministry of Religious Affairs’ translation of the Qur’an and the Bible. Using a library research method and Julia Kristeva’s intertextuality theory, the study identifies three forms of intertextual transposition. First, parallel transposition appears in the shared teaching that Allah alone is worthy of worship. Second, modificative transposition is reflected in the differing contexts of the monotheistic message: the Bible presents Jesus’ proclamation in dialogue with Satan, whereas the Qur’an directs it to the Children of Israel. Third, demythologizing transposition is evident in the Qur’an’s explicit rejection of the divinity of Jesus and the doctrine of the Trinity. This study contributes to Qur’anic studies by demonstrating that the Qur’an actively engages with earlier scriptural traditions rather than existing in theological isolation. The intertextual approach offers a relational and dialectical framework for understanding Qur’anic verses and provides an alternative model that enriches contemporary Qur’anic exegesis beyond conventional comparative studies. Penuhanan Yesus telah lama menjadi perdebatan dalam tradisi Kristen dan mencapai puncaknya pada Konsili Nicea tahun 325 M yang menetapkan Yesus sebagai Tuhan. Sebaliknya, Islam secara tegas menolak ketuhanan Nabi Isa A.S. dan menempatkannya sebagai hamba Allah, nabi, dan rasul. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konsep ketuhanan Nabi Isa a.s. Serta menemukan relasi intertekstual antara terjemahan Al-Qur'an dan Alkitab. Penelitian ini merupakan studi pustaka (library research) dengan menggunakan pendekatan intertekstualitas Julia Kristeva. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga bentuk transposisi intertekstual antara terjemahan Al-Qur'an Kemenag dan Alkitab. Pertama, transposisi paralel yang tampak pada kesamaan ajaran tentang penyembahan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Kedua, transposisi modifikasi yang terlihat pada perbedaan konteks dan sasaran dakwah; Alkitab menempatkan seruan tauhid Nabi Isa dalam dialog dengan Iblis, sedangkan Al-Qur'an mengarahkannya kepada Bani Israil. Ketiga, transposisi demitifikasi, yang ditunjukkan melalui penolakan tegas Al-Qur'an terhadap ketuhanan Nabi Isa a.s dan doktrin Trinitas. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi Al-Qur'an dengan menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak hadir dalam ruang teologis yang terisolasi, melainkan berinteraksi secara aktif dengan tradisi skriptural sebelumnya. Pendekatan intertekstualitas membuka perspektif baru dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an secara relasional dan dialektis melalui proses penyerapan, modifikasi, dan transformasi teks sumber. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan model pembacaan yang melampaui studi komparatif konvensional serta memperkaya metodologi tafsir Al-Qur'an kontemporer.
Copyrights © 2026