Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi aktual dan potensi pengembangan kedua instrumen di Pasar Modal Bengkulu, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus di Bengkulu (Nov 2025-Jan 2026). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan KDEKS, BEI/OJK/BSI, praktisi, dan investor ritel; observasi berbasis GIS; serta studi dokumentasi dari OJK dan Kemenkeu. Analisis dilakukan secara siklik menggunakan model Miles Huberman, dilengkapi triangulasi dan member check untuk menjaga validitas. Hasil penelitian menunjukkan akselerasi Pasar Modal daerah (SID 76 ribu, syariah 4 ribu, transaksi Rp383 miliar, GIS juara nasional). Reksa Dana Syariah mulai populer melalui fitur autodebit aplikasi dan portofolio ESG awal, sementara Sukuk Hijau masih terbatas pada ritel periodik, namun berpotensi mendanai PLTMH dan PLTP lokal. Strategi optimalisasi mencakup literasi ESG multi-channel, pengembangan Reksa Dana berkelanjutan, penyusunan green framework daerah, serta penerbitan Sukuk municipal untuk memperluas inklusi hingga 20% populasi. Penelitian ini berkontribusi memberikan rekomendasi praktis bagi stakeholder Bengkulu, dengan menjembatani teori dan operasional keuangan syariah berkelanjutan, serta memperkuat peran daerah dalam ekosistem keuangan hijau nasional.
Copyrights © 2026