Indonesia memiliki jumlah penduduk dengan disabilitas yang signifikan, termasuk tuna rungu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingginya jumlah individu muda dengan gangguan pendengaran. Tuna rungu menyebabkan keterbatasan dalam berkomunikasi yang berdampak pada proses belajar, sejalan dengan tantangan dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan inklusif. Mahasiswa tuna rungu sering mengalami hambatan komunikasi, isolasi sosial, dan keterbatasan fasilitas pendukung di perguruan tinggi. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan inovasi teknologi yang mendukung proses belajar mahasiswa tuna rungu. Oleh karena itu, dirancanglah aplikasi kamus bahasa isyarat berbasis teknologi yang dilengkapi fitur speech-to-text dan pengenalan gerakan tangan guna membantu mahasiswa non-tunarungu memahami bahasa isyarat, serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih inklusif.
Copyrights © 2026