Penelitian ini menganalisis representasi kritik terhadap hegemoni kapitalisme global dan penetrasi budaya asing dalam lukisan Dede Eri Supria pada masa Orde Baru. Fokus kajian terletak pada bagaimana karya visual menyuarakan dampak ekspansi kapitalisme serta marginalisasi masyarakat urban di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk membedah lukisan “Di antara Rimba Iklan” (1987) dan “Iced Coconut Juice Versus Coca Cola” (1991), melalui sintesis teori hegemoni Gramsci, produksi ruang Lefebvre, dan semiotika Peirce. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kedua lukisan tersebut merupakan instrumen kritik sosiopolitik yang membongkar komodifikasi ruang publik dan tegangan identitas akibat penetrasi modal asing. Melalui gaya hiperrealisme yang subversif, karya Dede Eri Supria hadir sebagai bentuk kontra-hegemoni visual yang memvalidasi dominasi budaya melalui estetika konsumsi. Secara teoretis, kajian ini memperluas konsep representational space Lefebvre dengan memosisikan seni rupa sebagai ruang tandingan yang mampu merepresentasikan "suasana kebatinan" sejarah yang sering terabaikan dalam dokumen resmi. Sinergi semiotika dalam penelitian ini menunjukan bahwa setiap elemen visual dalam kedua lukisan memikul beban ideologis kuat yang berfungsi membongkar distorsi realitas akibat pembangunan yang dipacu modal asing.
Copyrights © 2026