Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan tantangan kesehatan global yang berdampak signifikan terhadap pembiayaan layanan kesehatan, terutama bagi pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin. Di Indonesia, skema pembiayaan melalui INA-CBGs sering kali tidak mencerminkan biaya aktual yang dikeluarkan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau struktur biaya layanan hemodialisis, mengevaluasi kesesuaiannya dengan tarif INA-CBGs, serta mengidentifikasi kebijakan efisiensi yang dapat diterapkan. Metode yang digunakan adalah narrative review terhadap artikel ilmiah yang dipublikasikan di tingkat nasional dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Artikel yang dimasukkan ke dalam review adalah artikel yang membahas analisis biaya hemodialisis di rumah sakit di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan adanya ketimpangan antara tarif INA-CBGs dan biaya aktual layanan, dengan selisih biaya yang berkisar antara Rp12.319 hingga Rp119.668 per tindakan. Penggunaan metode Activity-Based Costing (ABC) terbukti memberikan estimasi biaya yang lebih akurat dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu, kebijakan penggunaan dialyzer sekali pakai menambah beban biaya tanpa perbedaan signifikan dalam hasil klinis dibandingkan dengan metode reuse. Kajian ini menyimpulkan pentingnya revisi tarif INA-CBGs berbasis data aktual serta evaluasi kebijakan penggunaan dialyzer guna menjamin efisiensi dan keberlanjutan layanan hemodialisis di Indonesia.
Copyrights © 2026