Meningkatnya kebutuhan energi serta semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fosil mendorong pengembangan sumber energi terbarukan yang berasal dari biomassa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pembuatan biobriket. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi perekat tepung tapioka (5%, 8%, 10%, 12%, dan 14%) terhadap karakteristik biobriket yang dibuat dari campuran limbah penyulingan minyak nilam dan sekam padi dengan perbandingan 50:50, serta menentukan komposisi perekat yang paling optimal. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Biobriket yang dihasilkan diuji berdasarkan kadar air, kadar abu, kadar zat menguap, dan laju pembakaran sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi perekat memberikan pengaruh terhadap seluruh parameter pengujian. Kadar air berkisar antara 11,25–14,94%, kadar abu 32,54–40,28%, kadar zat menguap 32,04–38,14%, dan laju pembakaran 0,4118–0,6094 g/menit. Komposisi perekat 12% menghasilkan karakteristik biobriket yang paling seimbang, yaitu kadar air 13,06%, kadar abu 34,52%, kadar zat menguap 36,17%, dan laju pembakaran 0,4589 g/menit. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan perekat tepung tapioka sebesar 12% merupakan komposisi optimum untuk menghasilkan biobriket dengan kualitas pembakaran yang baik sekaligus mendukung pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Copyrights © 2026