Penelitian ini menganalisis perkembangan historis dan strategi adaptasi Sanggar Supukaba di Bandung dari tahun 2008 hingga 2025. Permasalahan penelitian utama berfokus pada tantangan eksistensi sanggar di tengah persaingan lembaga seni dan dampak pandemi COVID-19 terhadap pendaftaran siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi bertahan hidup Sanggar Supukaba sebagai lembaga pembelajaran seni non-formal dalam melestarikan tari Jaipongan dan untuk memahami metode pembelajaran dalam lembaga non-formal seperti sanggar tari. Metode yang digunakan adalah metode historis, yang meliputi heuristik (studi literatur dan wawancara mendalam), verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bertahan hidup Sanggar Supukaba terletak pada penguatan identitas kolektif berbasis daerah (Subang, Sumedang, Purwakarta, Karawang, Bandung) dan menjaga konsistensi dalam karakter gerakan feminin yang mendefinisikan koreografinya. Kontribusi penelitian ini terhadap bidang ilmu seni terlihat jelas dalam penerapan nilai-nilai teladan dan sistem kekerabatan yang mempertahankan ekosistem pembelajaran yang nyaman. Lebih jauh lagi, prestasi internasional, seperti memenangkan medali emas di Malaysia dan Singapura (2015), membuktikan bahwa metode inovatif melalui regenerasi instruktur muda efektif dalam menjaga kualitas studio. Temuan ini menekankan bahwa integritas karakter gerakan dan adaptasi kurikulum yang dinamis merupakan kunci untuk mempertahankan relevansi seni tradisional bagi generasi muda di era global.
Copyrights © 2026