Attazakki: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam dan Humaniora
Vol 10, No 1 (2026): AT-TAZAKKI: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam dan Humaniora

LITERASI HUMANISTIK MELALUI DIKSI DAN MAKNA KONOTATIF DALAM PUISI “LAGU BIASA” KARYA CHAIRIL ANWAR: IMPLIKASI BAGI PEMBELAJARAN SASTRA

Edi Saputra (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia)



Article Info

Publish Date
23 Jun 2026

Abstract

AbtrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap pilihan kata dan makna konotatif dalam puisi sebagai sarana mengembangkan kepekaan bahasa, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan diksi dan makna konotatif dalam puisi “Lagu Biasa” karya Chairil Anwar serta menjelaskan implikasinya bagi penguatan literasi humanistik dalam pembelajaran sastra. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Data penelitian berupa kata, frasa, dan larik puisi yang mengandung diksi denotatif dan konotatif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, pembacaan intensif, pencatatan, dan pengelompokan data, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar menggunakan diksi yang sederhana, padat, dan ekspresif untuk menggambarkan pertemuan, ketertarikan, kekaguman, dan pergolakan batin tokoh lirik. Makna konotatif tampak pada ungkapan “samudra jiwa sudah selam berselam”, “rumput kering terus menyala”, dan “darahku terhenti berlari”. Ungkapan tersebut memperkuat kedalaman emosi dan nilai estetis puisi. Dalam pembelajaran sastra, analisis diksi dan makna konotatif dapat digunakan untuk melatih kemampuan menafsirkan bahasa figuratif, membaca secara reflektif, memahami pengalaman emosional, dan mengembangkan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan.Kata kunci: literasi humanistik; diksi; makna konotatif; puisi; pembelajaran sastra AbstractThis study is motivated by the importance of understanding word choice and connotative meaning in poetry as a means of developing students’ linguistic sensitivity, emotional awareness, and appreciation of human values. It aims to analyze diction and connotative meaning in Chairil Anwar’s poem “Lagu Biasa” and to explain their implications for strengthening humanistic literacy in literary learning. This study employed a descriptive qualitative method with a stylistic approach. The data consisted of words, phrases, and poetic lines containing denotative and connotative diction. The data were collected through a literature review, intensive reading, note-taking, and classification, and were analyzed through data reduction, presentation, interpretation, and conclusion drawing. The findings indicate that Chairil Anwar employs simple, concise, and expressive diction to portray encounter, attraction, admiration, and the inner emotional struggle of the lyrical speaker. Connotative meanings are evident in expressions such as “samudra jiwa sudah selam berselam,” “rumput kering terus menyala,” and “darahku terhenti berlari.” These expressions intensify the emotional depth and aesthetic quality of the poem. In literary learning, the analysis of diction and connotative meaning can be used to develop students’ ability to interpret figurative language, engage in reflective reading, understand emotional experiences, and cultivate sensitivity to human values.Keywords: humanistic literacy; diction; connotative meaning; poetry; literary learning

Copyrights © 2026