LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
Vol. 13 No. 1 (2026): April

TIPOLOGI TATA RUANG DALAM RUMAH ADAT KAMPUNG MARAPU ANAKALANG

Solissa, Arfie Pigan (Unknown)
Archiva Umbu Saki Pekulimu , Zhygit (Unknown)



Article Info

Publish Date
24 Jun 2026

Abstract

Kampung Adat Marapu Anakalang di Kabupaten Sumba Tengah merupakan permukiman leluhur yang merefleksikan keterjalinan kosmologi Marapu, struktur sosial, dan sistem ekonomi tradisional melalui konfigurasi bentuk serta tata ruang rumah adat. Dinamika modernisasi dan introduksi material bangunan baru, seperti penggunaan atap seng dan relokasi dapur, telah memicu transformasi fisik dan fungsional; meskipun demikian, struktur dasar tata ruang dalam yang berakar pada sistem kepercayaan dan praktik budaya lokal tetap dipertahankan sehingga menandai proses negosiasi berkelanjutan antara nilai tradisional dan kebutuhan kontemporer. Keterbatasan kajian yang secara spesifik dan komprehensif mengulas tipologi tata ruang dalam rumah adat Kampung Marapu Anakalang, baik pada dimensi vertikal maupun horizontal serta keterkaitannya dengan praktik ritual dan aktivitas keseharian, menjadi landasan utama dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi, melalui observasi partisipatif, pengukuran arsitektural, dokumentasi visual, dan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, yang selanjutnya dianalisis dan direpresentasikan dalam bentuk gambar arsitektural dan deskripsi tipologis. Temuan menunjukkan bahwa secara vertikal rumah adat tersusun atas tiga lapisan utama: Lubu Penang sebagai zona bawah untuk ternak dan penyimpanan material; Padua Uma sebagai zona tengah yang mengakomodasi aktivitas domestik, sosial, dan ritual keluarga; serta lapisan atas yang meliputi Hedang, Umadalu Korung, dan Umadalu Jaga Wogu sebagai ruang penyimpanan pusaka dan lumbung pangan yang bersifat sakral. Secara horizontal, ruang-ruang seperti Baga Haga Uma, Anakajaka, Halema, Korung, Kerajialu, Baga Baha Tabung, Pinu Paotung, dan ruang penyimpanan memperlihatkan pola dasar yang serupa, namun dengan variasi konfigurasi yang merefleksikan status sosial, intensitas praktik ritual, dan strategi adaptif terhadap modernisasi.

Copyrights © 2026