Penelitian ini bertujuan menganalisis peran bahasa metaforis dalam merepresentasikan krisis lingkungan melalui pendekatan ekolinguistik. Data penelitian berupa enal ungkapan metaforis yang berkembang dalam wacana publik terkait dengan bencana Sumatra November 2025 lalu, berupak alam adalah ibu, alam tak pernah benar-benar marah, alam berbicara, pohon bunuh diri massal, ketika alam mengungkap bobroknya sistem dan taubat ekologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif fengan tenikin analisis tiga dimensi, meliputi dimensi biologis, ideologis dan sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya metafora berfungsi tidak hanya sebagai perangkat retoris, tetapi juga sebagai instrumen pembentuk kesadaran ekologis kolektif. Pada dimensi biologis, metafora merefleksikan terganggunya keseimbangan ekosistem, pada dimensi ideologis, metafora menjadi kritik terhadap paradigma pembangunan yang antroposentris, sedangkan pada dimensi sosiologis, metafora menungkap keterkaitan antara kebijakan, kepentingan ekonomi dan kerentanan masyarakat. Dengan demikian, bahasa metaforis memiliki peran strategis dalam membingkai ulang relasi manusia dan alam serta mendorong perubahan paradigma menuju etika lingkungan yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026