Penurunan tanah yang terjadi pada proyek pelabuhan Patimban disebabkan akibat adanya proses konsolidasi, sehingga perlu dilakukan perbaikan tanah dasar untuk menjamin keamanan struktur utama di masa mendatang dan mencegah kerusakan dini seperti retakan atau bahkan runtuhnya bangunan akibat tanah yang tidak stabil. Perbaikan tanah dilakukan dengan memberikan beban preloading di atas lapisan tanah dasar untuk mempercepat proses konsolidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbandingan penurunan akhir menggunakan metode Asaoka dan Hiperbolik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengamatan di lapangan melalui pemasangan pipa settlement plate. Berdasarkan hasil, dari 8 pipa penurunan yang dipasang, penurunan aktual terbesar terjadi pada pipa settlement plate 02, yang mencapai 92 mm dalam periode 60 hari. Berdasarkan analisis metode Asaoka, semua pipa settlement sudah memenuhi target penurunan konsolidasi lebih dari 90%, sehingga dikatakan penurunan sudah dianggap stabil. Tetapi terdapat ketimpangan dengan analisis yang menggunakan metode Hiperbolik dimana masih terdapat dua pipa yang belum memenuhi target penurunan konsolidasi 90% diantaranya yaitu pada pipa SP 01 yang baru mencapai 66,0 % dan SP 02 yang baru mencapai 80,9%. Perbandingan kedua metode tersebut menunjukkan bahwa metode Asaoka bersifat stabil dan sederhana dalam menentukan penurunan akhir proses konstruksi, sedangkan metode Hiperbolik lebih responsif terhadap perubahan data waktu sesaat
Copyrights © 2026