Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna teologis Shema Israel dalam Ulangan 6:4 melalui pendekatan eksegesis, serta menelaah implikasinya bagi pembentukan identitas iman Kristen di era kontemporer yang ditandai oleh pluralisme, sekularisme, dan relativisme moral. Teks ini dipahami sebagai pusat pengakuan iman Israel yang menegaskan keesaan Allah sekaligus menuntut respons total dalam bentuk kasih dan ketaatan kepada-Nya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika biblika melalui studi kepustakaan, dengan mengintegrasikan analisis historis-kontekstual, gramatikal-leksikal, struktural, dan teologis terhadap teks, khususnya pada istilah kunci seperti shema’ dan echad. Sumber data meliputi teks Alkitab sebagai data primer serta berbagai literatur teologis sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Shema Israel tidak hanya merupakan pernyataan monoteisme secara konseptual, tetapi juga mengandung tuntutan ketaatan yang menyeluruh dan berkelanjutan; secara leksikal dan teologis, istilah echad menegaskan keesaan Allah yang bersifat eksklusif dan tidak tertandingi dalam konteks polemik terhadap politeisme, sekaligus menekankan pentingnya transmisi iman secara generasional melalui keluarga sebagai pusat pendidikan iman. Dengan demikian, pembentukan identitas iman Kristen tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui proses internalisasi firman, pembaharuan pola pikir, dan praktik hidup yang konsisten dalam relasi dengan Allah, sehingga Shema Israel tetap memiliki relevansi normatif dalam membangun identitas iman yang autentik, holistik, dan kontekstual di tengah dinamika kehidupan masa kini.
Copyrights © 2026