Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan gizi dan daya terima klepon melalui modifikasi dengan penambahan daun kelor (Moringa oleifera) sebagai sumber alami zat besi, guna mendukung pencegahan anemia. Rendahnya konsumsi sayuran dan tingginya prevalensi anemia di Indonesia menjadi latar belakang penting dalam pengembangan inovasi pangan fungsional berbasis kearifan lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui uji organoleptik menggunakan Google Form terhadap empat sampel klepon yang dimodifikasi dengan pengolahan metode daun kelor berbeda: bubuk (B), puree (C), dan air sari (D), dibandingkan dengan klepon pandan (A) sebagai kontrol. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan signifikan antar sampel. Hasil menunjukkan bahwa klepon dengan bubuk daun kelor (Sampel B) memperoleh skor tertinggi pada parameter warna (3,81), aroma (3,61), rasa (3,57), dan tekstur (3,92), serta memiliki daya terima yang baik. Sedangkan klepon dengan air sari daun kelor (Sampel D) mendapat skor terendah karena teksturnya lembek dan rasanya pahit. Kandungan zat besi yang diperoleh klepon dengan bubuk kelor meningkat hingga 2,18mg/100gram, yang dimana memenuhi 12,11%-31,1% kebutuhan harian tergantung kelompok umur. Disimpulkan bahwa klepon daun kelor berpotensi menjadi pangan fungsional penunjang pencegahan anemia dan disarankan pengembangan formulasi untuk menutup rasa langu dan inovasi kemasan agar lebih menarik bagi konsumen.
Copyrights © 2025