Akselerasi transformasi digital memicu pergeseran budaya kerja konvensional menuju model hybrid. Kelompok demografis yang paling terdampak oleh perubahan struktural ini adalah generasi milenial, yang menuntut otonomi dan fleksibilitas kerja tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh budaya kerja hybrid terhadap produktivitas kerja dengan work-life balance sebagai variabel mediasi pada karyawan generasi milenial di Indonesia. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode asosiatif kausal. Data primer dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner daring terstruktur kepada 175 responden yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Kriteria sampel meliputi karyawan milenial aktif yang telah menjalani sistem kerja hybrid minimal selama enam bulan. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kerja hybrid berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja dan work-life balance. Selanjutnya, work-life balance terbukti berpengaruh positif terhadap produktivitas dan bertindak sebagai mediator parsial yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa otonomi tempat dan waktu dalam sistem hybrid akan menghasilkan kinerja output yang optimal dan berkelanjutan apabila organisasi mampu mewujudkan kesejahteraan hidup dan keharmonisan peran bagi karyawan terlebih dahulu. Implikasi manajerial menyarankan korporasi untuk memformulasikan regulasi hak untuk memutus koneksi digital (right to disconnect) guna menjaga produktivitas jangka panjang talenta milenial.
Copyrights © 2026