Fenomena personal branding Aldi Taher di Threads menghadirkan paradoks: di tengah standar konten aspirasional, ia justru membangun identitas melalui estetika cringe—konten absurd, repetitif, dan melampaui norma figur publik—yang justru berhasil meraih atensi masif dan mendorong penjualan signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana audiens pengguna Threads memaknai dan merespons konten personal branding Aldi Taher serta mengidentifikasi mekanisme estetika cringe sebagai strategi penarikan atensi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menerapkan kerangka Teori Resepsi Stuart Hall untuk memetakan tiga posisi pemaknaan audiens (dominant, negotiated, oppositional). Data dikumpulkan melalui dokumentasi 30 konten purposif periode Januari-Maret 2026, observasi non-partisipan, dan wawancara mendalam dengan tiga informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens terbagi dalam tiga posisi pemaknaan: posisi dominan menerima konten secara penuh hingga mendorong perilaku konsumsi nyata; posisi negosiasi mengapresiasi keunikan strategi namun merekonstruksi maknanya sebagai strategi bisnis; dan posisi oposisional secara verbal menolak namun secara paradoksal justru menjadi kontributor terbesar dalam distribusi organik konten. Penelitian ini menyimpulkan bahwa estetika cringe bukan merupakan kegagalan komunikasi, melainkan modalitas komunikasi tersendiri yang memanfaatkan logika ekonomi atensi digital, di mana resistensi audiens dalam ekosistem platform justru menjadi mesin penggerak sirkulasi pesan yang paling produktif. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi digital, khususnya dalam memahami strategi personal branding berbasis konten kontroversial di Indonesia.
Copyrights © 2026