Dinamika pertanian saat ini yang mengarah pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dengan penguatan SDGs, melalui pertanian yang berkelanjutan dan di kaitkan dengan ekonomi pertanian yang membahas secara luas bagaimana peningkatan pendapatan petani, terutama petani yang mempunyai lahan yang sempit, dengan mengacu kepada ASTA CIPTA no.6. membahas bagaimana cara meningkatakann pendapatan dalam bidang pertanian dengan mengarah kepada ekonomi pertanian secara berkelanjutan dan luas. Sehingga para petani dengan luas lahan yang sempit melalui penelitian ini dapat menjadi acuan untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani padi sawah di Kecamatan tanjung morawa, Untuk mengetahui strategi yang tepat untuk meningkatkan pendapatan petani padi sawah di Kecamatan tanjung morawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Analisis mendalam terhadap usahatani padi organik Desa Tanjung Baru mengungkapkan profil petani yang matang (usia 30-50 th, pengalaman 18-20 th) dengan lahan 3 hektar yang sesuai. Transisi dari konvensional ke organik menunjukkan perbaikan signifikan: pergeseran struktur biaya dengan penurunan input eksternal 80-85% dan peningkatan tenaga kerja, tetapi tetap menguntungkan dengan R/C ratio 2,14 dan B/C ratio 1,80. Variabilitas produksi sangat rendah (CV=3,87%), menunjukkan homogenitas tinggi dalam penerapan SOP organik antar petani. Analisis regresi berganda mengidentifikasi dosis kompos (β=+0,850), luas lahan (β=+1,200), dan bibit (β=+0,095) sebagai faktor penentu utama dengan R²=0,762. Analisis SWOT menunjukkan posisi internal kuat (IFE=4,90) dan eksternal dinamis (EFE=5,75), memposisikan strategi pada Kuadran I (Growth). Strategi SO prioritas adalah sertifikasi organik kolektif + penetrasi niche market (urban consumers 30%, B2B institutional 40%, D2C online 30%), meningkatkan pendapatan +39,5% melalui penerimaan rata-rata Rp 10.879/kg. Peningkatan farmer's share dari 50-60% menjadi 75-80% melalui multi-channel marketing, infrastruktur pascapanen optimal (reduksi losses 15%→5%, tambah Rp 14 juta/musim), dan hilirisasi produk (margin +30-150%, tambah Rp 62,65 juta/musim) menciptakan ekosistem agribisnis berkelanjutan.
Copyrights © 2026