Biodiesel di Indonesia umumnya berasa dari ester metil asam lemak yang diproduksi dari minyak sawit. Biodiesel telah digunakan sebagai bahan baku dalam produksi biosolar. Saat ini, Indonesia menerapkan B40 yang berarti dalam biosolar terkandung 40 %(v/v) biodiesel. Kandungan biodiesel dapat dianalisa menggunakan Nuclear Magnetic Resonance (NMR), Kromatografi Gas (GC), dan spektroskopi Fourier Transform Infra Merah (FTIR). Saat ini peralatan komersial untuk menentukan komposisi biosolar menggunakan prinsip FTIR. Pada penelitian telah dilakukan pengukuran biodiesel dalam biosolar menggunakan metode FTIR-ATR dan GC-FID. Penelitian dilakukan menggunakan masing-masing dua jenis biodiesel dan dua jenis minyak solar yang dikombinasikan menghasilkan empat variasi berbeda. Penentuan kadar biodiesel dengan metode FTIR-ATR dilakukan berdasarkan luas serapan gugus karbonil (C=O) di 1742 cm-1 yang berasal dari biodiesel. Data yang diperoleh dari hasil análisis menggunakan FTIR-ATR diolah menjadi tiga set bilangan gelombang, yaitu 1692 – 1800 cm-1, 1700 – 1800 cm-1, 1670 – 11851 cm-1 sesuai standar ASTM D7371-14(2022) dan rentang 1726 - 1776 cm-1. Analisis menggunakan metode GC-FID dilakukan dengan menggunakan metil heksadekanoat sebagai puncak acuan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa analisis menggunakan GC-FID memberikan linearitas dan akurasi lebih baik pada rentang kadar 1 – 50 %(v/v) biodiesel dalam biosolar.
Copyrights © 2025