Pola asuh permisif dalam keluarga Kristen modern sering kali menyalahartikan konsep kasih karunia (grace) sebagai kebebasan tanpa batas, yang berisiko memicu krisis kesehatan mental bagi Generasi Alpha selaku digital native. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mengeksplorasi motivasi teologis orang tua Kristen di balik penerapan pola asuh permisif serta menganalisis manifestasi dampaknya terhadap kesehatan mental anak Generasi Alpha. Melalui teknik purposive sampling, data dihimpun dari 15 keluarga Kristen urban yang memiliki anak usia sekolah (8–15 tahun) menggunakan metode wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menerapkan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang diuji keabsahannya melalui triangulasi. Hasil penelitian mengungkap adanya distorsi teologis akut, di mana orang tua memisahkan aspek kasih dari pendisiplinan alkitabiah, serta menggunakan gawai sebagai penenang elektronik (gadget as a pacifier) untuk menghindari konflik. Dampaknya pada kesehatan mental anak menunjukkan ketiadaan kapasitas regulasi emosi, tingginya egosentrisme, dan rendahnya ketahanan mental (resilience). Anak-anak menjadi rentan mengalami gangguan kecemasan dan frustrasi ekstrem saat menghadapi tekanan di luar rumah karena tidak terbiasa dengan penundaan kepuasan (delayed gratification). Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya reformasi pola asuh Kristen menuju model otoritatif yang mengintegrasikan secara seimbang antara grace (kasih karunia) dan truth (kebenaran) demi memulihkan kesehatan mental generasi digital.
Copyrights © 2026