Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna istilah autarkēs (αὐτάρκης) dalam Filipi 4:11–12 melalui pendekatan eksegetis dan teologis, serta mengidentifikasi implikasinya bagi kehidupan dan pelayanan para pelayan Tuhan pada masa kini. Istilah autarkēs sering dikaitkan dengan konsep kemandirian diri dalam filsafat Stoik, namun penggunaan istilah tersebut oleh Paulus menunjukkan transformasi makna yang signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis eksegetis terhadap teks Filipi 4:11–13 berdasarkan kajian leksikal, historis, dan teologis. Sumber data diperoleh dari teks Alkitab, literatur akademik, komentar Perjanjian Baru, serta artikel jurnal yang membahas konsep autarkeia dalam konteks dunia Yunani-Romawi dan teologi Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa autarkēs menurut Paulus bukanlah kemandirian yang berpusat pada kemampuan manusia sebagaimana diajarkan dalam Stoisisme, melainkan kecukupan yang lahir dari ketergantungan kepada Kristus. Kecukupan tersebut merupakan hasil pembelajaran spiritual yang berlangsung melalui pengalaman hidup, penderitaan, krisis, dan relasi persekutuan dengan komunitas iman. Selain itu, konsep autarkēs berfungsi sebagai kritik teologis terhadap materialisme dan konsumerisme yang dapat memengaruhi pelayanan gerejawi. Paulus menegaskan bahwa identitas, keamanan, dan keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh kekayaan materi atau pencapaian manusia, melainkan oleh relasi yang hidup dengan Kristus yang memberikan kekuatan dalam segala keadaan. Oleh karena itu, autarkēs dalam Filipi 4:11–12 memberikan landasan teologis bagi pengembangan spiritualitas kesederhanaan, ketergantungan kepada Kristus, dan integritas pelayanan Kristen.
Copyrights © 2026