Minyak goreng bekas merupakan produk limbah rumah tangga yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan kembali. Di sisi lain, krokot (Portulaca oleracea L.) merupakan gulma yang mengandung metabolit sekunder seperti saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penggunaan kedua bahan ini sebagai sabun cair antibakteri merupakan alternatif yang bermanfaat untuk meningkatkan kebersihan dan mengurangi pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak etanol krokot terhadap kualitas fisik sabun cair dan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus. Sabun cair dibuat dalam tiga formula dengan variasi konsentrasi ekstrak krokot (10%, 15%, dan 20%). Evaluasi formula meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, berat jenis, uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumur, dan uji saponin kualitatif. Semua formula memiliki karakteristik organoleptik yang serupa: aroma mawar, warna hijau muda, tekstur lembut, dan homogenitas yang baik. pH berkisar antara 5,5–6,25, dan berat jenis 1,03–1,09 g/mL memenuhi standar sabun cair. Formula III (ekstrak 20%) menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Staphylococcus aureus pada diameter 23 mm, termasuk dalam kategori kuat. Formula I dan II menunjukkan aktivitas penghambatan lemah. Kata kunci: Sabun cair antibakteri, minyak goreng bekas, krokot (Portulaca oleracea L.), Staphylococcus aureus, dan saponin.
Copyrights © 2026