Artikel ini membahas “Penyihir Putih” sebagai metafora konseptual bagi figur ideal-tipikal yang mengubah legitimasi religius menjadi kewenangan pseudo-medis dalam masyarakat modern. Kajian ini bertujuan menjelaskan perubahan status epistemik ketika otoritas religius digunakan untuk menetapkan sebab penyakit, diagnosis, dan efektivitas terapi tanpa mekanisme pembuktian dan koreksi yang memadai. Tulisan disusun sebagai kajian konseptual-filosofis berbasis literatur dan analisis kritis dengan menggunakan pemikiran Geertz, Weber, Bourdieu, Foucault, dan Popper untuk membaca hubungan antara simbol, karisma, modal simbolik, kuasa pengetahuan, dan klaim terapeutik. Analisis menunjukkan bahwa otoritas Penyihir Putih terbentuk melalui konversi kesalehan dan simbol agama menjadi legitimasi penyembuhan, diperkuat oleh testimoni serta struktur klaim yang memungkinkan keberhasilan maupun kegagalan mempertahankan kewibawaan penyembuh. Secara epistemologis, persoalan muncul ketika klaim spiritual berubah menjadi klaim faktual mengenai penyakit tanpa keterbukaan terhadap pemeriksaan dan koreksi. Kritik artikel ini karena itu diarahkan pada perubahan otoritas spiritual menjadi otoritas pseudo-medis, bukan pada doa atau spiritualitas sebagai pendamping perawatan medis.
Copyrights © 2026