Integrasi ilmu merupakan salah satu isu epistemologis paling mendesak dalam wacana keilmuan kontemporer. Fragmentasi pengetahuan akibat spesialisasi disiplin yang ekstrem telah melahirkan krisis pemahaman holistik terhadap realitas. Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis tiga paradigma utama dalam wacana integrasi ilmu, yaitu paradigma dikotomistik, integratif-interkonektif, dan transdisipliner. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan yang dipadukan dengan analisis wacana kritis, artikel ini mengidentifikasi asumsi ontologis-epistemologis, kekuatan, serta keterbatasan masing-masing paradigma. Temuan menunjukkan bahwa paradigma integratif-interkonektif yang berkembang dalam konteks pendidikan Islam Indonesia menawarkan model yang produktif di antara reduksionisme sekular dan isolasionisme religius, sementara paradigma transdisipliner membuka horizon yang lebih luas dengan melibatkan berbagai bentuk pengetahuan lintas-budaya dan aktor non-akademik. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi ilmu bukan sekadar strategi metodologis, melainkan keniscayaan ontologis dan etis untuk menjawab kompleksitas tantangan peradaban abad ke-21, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Copyrights © 2026