Keterbatasan akses layanan kesehatan mata di wilayah kepulauan menyebabkan tingginya kasus gangguan penglihatan yang belum terdiagnosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis hasil deteksi dini gangguan penglihatan dan kelainan refraksi pada masyarakat Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, sebagai dasar penyusunan program kesehatan mata berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif pada 184 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pemeriksaan meliputi skrining tajam penglihatan menggunakan Snellen chart, refraksi objektif dengan autorefraktometer, dan refraksi subjektif menggunakan trial frame serta lensa. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil menunjukkan presbiopia merupakan kelainan terbanyak (53,6%), diikuti astigmatisme (33,8%), miopia dan astigmatisme miopia (masing-masing 14,7%), serta hipermetropia (3,8%). Kelainan refraksi lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 46–55 tahun dan perempuan. Sebanyak 90,7% peserta membutuhkan kacamata koreksi yang langsung diberikan di lokasi. Tingginya prevalensi kelainan refraksi menunjukkan perlunya penguatan layanan kesehatan mata melalui skrining berkala, edukasi masyarakat, dan penyediaan fasilitas koreksi penglihatan yang berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Copyrights © 2026