Lama perawatan neonatus merupakan indikator penting dalam menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir dan efektivitas pelayanan maternal-neonatal. Faktor maternal seperti preeklampsia dan ketuban pecah dini, serta kondisi awal bayi yang dinilai melalui skor APGAR menit pertama, berpotensi memengaruhi kebutuhan perawatan neonatus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh preeklampsia, ketuban pecah dini, dan skor APGAR menit pertama terhadap lama perawatan neonatus di Puskesmas Pasean Pamekasan. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 neonatus yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis ibu dan bayi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 ibu (30,0%) mengalami preeklampsia, 14 ibu (35,0%) mengalami ketuban pecah dini, dan 15 neonatus (37,5%) memiliki skor APGAR menit pertama rendah. Sebanyak 16 neonatus (40,0%) menjalani perawatan lebih dari 3 hari. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara preeklampsia dengan lama perawatan neonatus (p = 0,006), ketuban pecah dini dengan lama perawatan neonatus (p = 0,035), serta skor APGAR menit pertama dengan lama perawatan neonatus (p = 0,001). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa preeklampsia, ketuban pecah dini, dan skor APGAR menit pertama berpengaruh terhadap lama perawatan neonatus. Deteksi dini faktor risiko maternal dan penilaian kondisi bayi segera setelah lahir perlu dioptimalkan untuk mendukung penatalaksanaan neonatus yang lebih cepat dan tepat.
Copyrights © 2026