Latar Belakang: Prevalensi stunting di Kabupaten Sigi masih tergolong kritis (43%). Di wilayah pedesaan agraris dengan ketersediaan pangan melimpah, stunting disinyalir dipicu oleh rendahnya food literacy pengasuh dalam menyaring kualitas bahan pangan sebelum pengolahan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi praktik pemilihan bahan makanan oleh pengasuh anak bawah dua tahun (baduta) berdasarkan tingkat kesegaran, penggunaan kemasan, masa simpan, gizi seimbang, dan kepraktisan di lokus stunting wilayah kerja Puskesmas Kulawi, Kabupaten Sigi. Metode: Sampel penelitian terdiri dari 64 pengasuh yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling dari sembilan desa. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis secara univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pengasuh memiliki praktik yang tidak tepat dalam beberapa aspek: tingkat kesegaran (81,3% tidak tepat), masa simpan bahan segar (73,4% tidak tepat), gizi seimbang bahan pabrikan (77,2% tidak tepat), dan kepraktisan penggunaan (90,6% tidak tepat). Sebaliknya, ketepatan praktik terlihat pada aspek penggunaan kemasan (53,1%) dan pemilihan bahan lokal sesuai gizi seimbang (70,3%). Kesimpulan: Sebagian besar pengasuh di wilayah lokus stunting belum menerapkan kriteria pemilihan bahan pangan yang tepat, terutama pada aspek kualitas kesegaran dan literasi label nutrisi. Paradoks kecukupan menu lokal tanpa jaminan kesegaran bahan berisiko mereduksi bioavailabilitas zat gizi mikro anak. Disarankan bagi otoritas kesehatan untuk merevitalisasi edukasi Posyandu dengan memprioritaskan pelatihan food literacy rumah tangga pasca-panen demi optimalisasi MP-ASI.
Copyrights © 2024