Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kelompok minoritas seksual, khususnya gay senior di wilayah kultural religious Cirebon, mengelola disonansi kognitif dan membangun resiliensi sosial melalui dinamika komunikasi interpersonal. Pendekatan kualitatif dengan tradisi fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman hidup dari tiga informan utama (gay berusia di atas 40 tahun) dan satu informan triangulasi dari lembaga advokasi PKBI Cirebon. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif dengan mematuhi protokol etika privasi secara ketat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disonansi kognitif akibat benturan dogma agama (Islam) dan hasrat orientasi seksual dikelola melalui kompartementalisasi psikologis, di mana informan memilih melepaskan atribut ritual ibadah sebagai mekanisme pertahanan diri. Analisis Dramaturgi dan Communication Privacy Management (CPM) mengungkapkan bahwa aplikasi kencan digital bertransformasi menjadi panggung belakang (back stage) yang memfasilitasi pergeseran kebutuhan dari pemuasan biologis menuju afeksi intimasi (cuddle) dan validasi emosional. Negosiasi identitas ini membuahkan resiliensi sosial yang tangguh, dibuktikan dengan kemampuan informan mengonversi kerentanan sosialnya menjadi empati intragrup saat bertugas sebagai agen edukasi kesehatan di lapangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan disonansi batin dan optimalisasi ruang interaksi digital secara otonom mampu meredefinisi eksistensi minoritas seksual menjadi komunikator kesehatan masyarakat yang humanis dan memberdayakan.
Copyrights © 2026