Masa remaja merupakan fase krusial yang ditandai oleh perubahan menyeluruh, termasuk dalam dimensi komunikasi sosial. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman komunikasi sosial serta pemaknaan simbol yang terbentuk dalam kelompok ekstrakurikuler Pecinta Alam Seribu Sungai (PERISAI) SMAN 2 Martapura. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi Alfred Schutz, data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap lima informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas berbasis alam dalam PERISAI membentuk pola komunikasi yang bersifat adaptif, mencakup komunikasi formal dalam forum organisasi dan komunikasi informal yang membangun kedekatan emosional antaranggota. Pengalaman kolektif selama Diklatsar terbukti menjadi titik transformasi relasi sosial, mengubah ikatan pertemanan biasa menjadi hubungan layaknya saudara. Simbol-simbol organisasi seperti atribut, jargon, nama lapangan, dan mars organisasi tidak sekadar berfungsi sebagai penanda identitas, melainkan menjadi medium internalisasi nilai dan perekat solidaritas kelompok. Analisis melalui kerangka teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead mengungkap bahwa proses pemaknaan berlangsung secara progresif melalui interaksi berulang antargenerasi anggota. Penelitian ini menegaskan bahwa ekstrakurikuler berbasis alam berkontribusi signifikan dalam membentuk identitas kolektif dan keterampilan komunikasi sosial remaja.
Copyrights © 2026