Fenomena tekanan finansial pada generasi milenial menjadi salah satu isu yang banyak dialami pekerja saat ini, terutama dalam menghadapi tuntutan kebutuhan hidup dan kondisi ekonomi yang dinamis, seperti tingginya biaya hidup, keterbatasan pendapatan, serta meningkatnya beban pengeluaran sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi pekerja generasi milenial terhadap penggambaran tekanan finansial yang dialami tokoh Kaluna dalam film Home Sweet Loan. Penelitian ini menggunakan teori resepsi Stuart Hall dan pendekatan analisis resepsi audiens. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap lima informan yang merupakan pekerja generasi milenial. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan pemaknaan informan ke dalam tiga posisi, yaitu dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional reading. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemaknaan terhadap penggambaran tekanan finansial dalam film Home Sweet Loan. Sebagian besar informan berada pada posisi dominant-hegemonic, sedangkan sebagian lainnya berada pada posisi negotiated dan oppositional pada beberapa adegan tertentu. Perbedaan pemaknaan ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kondisi sosial, serta latar belakang ekonomi masing-masing informan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa audiens tidak menerima pesan media secara seragam, melainkan menafsirkannya berdasarkan pengalaman dan konteks sosial yang dimiliki.
Copyrights © 2026