Artikel ini mengkaji tradisi arak-arakan Si Muntu di Sumatera Barat melalui pendekatan hermeneutika untuk memahami bagaimana praktik performatif tersebut membangun, mentransmisikan, dan mentransformasikan makna kolektif masyarakat. Si Muntu tidak diposisikan sekadar sebagai figur ritual atau ekspresi folklor, melainkan sebagai “teks budaya†yang terus ditafsir ulang dalam konteks sosial, politik, dan historis yang berubah. Dengan menggunakan kerangka hermeneutika filosofis, penelitian ini menelaah relasi antara simbol, tubuh performatif, ruang komunal, dan horizon pemaknaan masyarakat pendukungnya. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, dokumentasi visual, dan wawancara mendalam dengan pelaku serta tokoh adat. Analisis menunjukkan bahwa Si Muntu berfungsi sebagai medium negosiasi identitas, memori kolektif, dan dinamika kuasa, sekaligus membuka ruang tafsir baru di tengah perubahan zaman. Dengan demikian, tradisi ini tidak bersifat statis, tetapi merupakan peristiwa makna yang selalu berada dalam proses penafsiran ulang.
Copyrights © 2026