Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya membaca simbol sagu dalam puisi “Sagu Ambon” karya W.S. Rendra sebagai representasi budaya lokal yang berkaitan dengan pengalaman konflik, identitas kolektif, dan gagasan perdamaian masyarakat Maluku. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi sagu dalam puisi “Sagu Ambon” berdasarkan perspektif semiotika Roland Barthes. Teori yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes yang menekankan tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka serta baca-catat terhadap kata, frasa, larik, dan bait yang memuat tanda tentang sagu. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi penanda dan petanda, menafsirkan makna denotatif dan konotatif, serta mengungkap mitos yang terbentuk melalui tanda tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif sagu merepresentasikan pangan lokal dan realitas material masyarakat Maluku. Secara konotatif, sagu menjadi simbol keharmonisan, kebersamaan, dan identitas budaya kolektif. Pada tingkat mitos, sagu membangun ideologi perdamaian dan rekonsiliasi yang menegaskan pentingnya persaudaraan di tengah perbedaan sosial, agama, dan budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sastra tentang penerapan semiotika Barthes dalam analisis puisi Indonesia. Selain memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian semiotika sastra, penelitian ini juga memperkaya perspektif mengenai representasi pangan lokal sebagai bagian dari konstruksi makna budaya dalam karya sastra Indonesia.
Copyrights © 2026