Perkembangan industri halal global mendorong meningkatnya perhatian terhadap implementasi Halal Supply Chain Management (HSCM) sebagai sistem yang menjamin kehalalan produk pada seluruh tahapan rantai pasok. Namun, kajian HSCM selama ini lebih banyak berorientasi pada aspek manajerial, operasional, dan kepatuhan terhadap sertifikasi halal, sementara dimensi etik yang bersumber dari hadis masih relatif jarang dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep amanah dan itqan dalam hadis serta menjelaskan relevansinya sebagai fondasi etik dalam implementasi HSCM. Penelitian menggunakan pendekatan library research dengan pendekatan ma'ani al-hadis. Sumber data primer berupa hadis-hadis tentang amanah dan itqan beserta kitab-kitab syarah yang relevan, sedangkan sumber data sekunder berasal dari literatur mengenai Halal Supply Chain Management, etika bisnis Islam, dan ekonomi syariah. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menghubungkan makna konseptual hadis terhadap prinsip-prinsip HSCM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amanah merupakan landasan integritas yang menuntut kejujuran, tanggung jawab, transparansi, dan komitmen dalam menjaga kehalalan produk pada setiap tahapan pengadaan, produksi, penyimpanan, transportasi, hingga distribusi. Sementara itu, itqan menjadi dasar profesionalisme yang diwujudkan melalui penerapan quality control, traceability, dokumentasi, audit halal, dan continuous improvement dalam pengelolaan rantai pasok halal. Penelitian ini juga merumuskan model konseptual yang menempatkan amanah sebagai fondasi integritas rantai pasok dan itqan sebagai fondasi kualitas serta profesionalisme. Dengan demikian, HSCM tidak hanya dipahami sebagai sistem manajemen yang berorientasi pada kepatuhan terhadap standar halal, tetapi juga sebagai implementasi nilai-nilai profetik yang memperkuat tata kelola industri halal berbasis integritas dan kualitas kerja.
Copyrights © 2026