Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kritik sosial yang terkandung dalam lirik dan visual musik punk Indonesia, khususnya lagu Negri Ngeri karya Band Marjinal serta lagu Bayar Bayar Bayar karya Sukatani, menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian berfokus pada pengungkapan representamen, objek, dan interpretant yang membentuk pesan perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, korupsi, represi aparat, kemiskinan, penggusuran, serta berbagai persoalan struktural yang dialami masyarakat marjinal di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Peirce. Data diperoleh melalui analisis lirik lagu, visual video musik, dokumentasi, dan studi pustaka yang kemudian dianalisis menggunakan model triadik Peirce yang meliputi ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik-lirik seperti “bayar polisi”, “mau gusur rumah”, dan “negeri ngeri” berfungsi sebagai tanda yang merepresentasikan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penggusuran paksa, dan ketimpangan sosial. Sementara itu, visual seperti tumpukan sampah, pekerja dengan laptop di lingkungan kumuh, serta konsumsi junk food di tempat pembuangan sampah memperkuat kritik terhadap modernitas semu, konsumerisme, kerusakan lingkungan, dan marginalisasi masyarakat kecil. Analisis menunjukkan bahwa semiotika Peirce mampu menjelaskan proses pembentukan makna secara lebih komprehensif melalui hubungan antara representamen, objek, dan interpretant sehingga menghasilkan kesadaran kolektif mengenai perlunya perubahan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa musik punk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi kritis dan alat perlawanan sosial yang efektif dalam menyuarakan aspirasi kelompok marjinal di Indonesia.
Copyrights © 2026