Sistem distribusi air minum merupakan infrastruktur vital yang rentan terhadap gempa bumi dan likuefaksi, khususnya di wilayah rawan seismik seperti Sumatera Barat. Kerusakan jaringan perpipaan akibat gangguan seismik dapat menyebabkan penurunan tekanan distribusi, gangguan kualitas air, serta terhambatnya pemulihan layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan pendekatan resiliensi pada sistem distribusi air terhadap risiko gempa dan likuefaksi, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, serta merumuskan strategi penguatan resiliensi yang kontekstual untuk wilayah berkembang. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan critical thematic literature review terhadap artikel ilmiah pada periode 2010–2026 yang diperoleh dari Scopus, Web of Science, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan evaluasi resiliensi berkembang dari metode berbasis reliability menuju integrasi Pressure-Driven Analysis (PDA), fragility analysis, dan socio-technical resilience. PDA lebih representatif dalam memodelkan kondisi hidraulik pascagempa, sedangkan fragility analysis efektif untuk mengevaluasi probabilitas kerusakan berdasarkan parameter intensitas seismik. Selain itu, penelitian ini juga mengusulkan kerangka integratif yang menghubungkan bahaya seismik, probabilitas kerusakan, respons hidraulik, interdependensi infrastruktur, dan strategi pemulihan dalam satu pendekatan konseptual. Kerangka yang diusulkan menunjukkan bahwa performa hidraulik, interdependensi infrastruktur, dan kapasitas kelembagaan memiliki peran yang sama penting dalam meningkatkan resiliensi layanan air minum pascabencana.
Copyrights © 2026