Alih fungsi lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelara dari kawasan berhutan menjadi area permukiman dan pertanian telah meningkatkan limpasan permukaan serta debit banjir sungai. Kondisi ini menyebabkan terjadinya banjir berulang, dengan kejadian terbesar tercatat pada 22 Januari 2019 dan 12 Juni 2020. Penelitian ini bertujuan menyusun model spasial kawasan rawan banjir di DAS Kelara sebagai dasar pendukung mitigasi bencana. Analisis debit banjir rencana dilakukan menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Soil Conservation Service (SCS) berbantuan perangkat lunak HEC-HMS. Selanjutnya, simulasi genangan banjir dilakukan menggunakan HEC-RAS dan hasilnya dipetakan dengan ArcMap. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sembilan kawasan permukiman dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir, yaitu Kelurahan Monro-Monro, Desa Sapanang, Kelurahan Balang Toa, Desa Paitana, Desa Empoang Utara, Kelurahan Sidendre, Desa Kayuloe Barat, Kelurahan Balang, dan Desa Bonto Ma’tene. Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto merupakan wilayah dengan dampak banjir paling signifikan. Luas genangan banjir kategori rendah (<0.76 m), sedang (0.76–1.50 m), dan tinggi (>1.50 m) masing-masing mencapai 226.98 ha, 395.89 ha, dan 302.24 ha. Model spasial berbasis Google Maps yang dikembangkan mampu menyajikan informasi kawasan rawan banjir secara efektif, mudah diakses, dan ekonomis.
Copyrights © 2026