Abstrak. Media sosial telah menciptakan ruang virtual yang mempertemukan berbagai komunitas, salah satunya adalah Bookstagram, komunitas pecinta dan pengulas buku di Instagram. Influencer di level nano dan mikro memanfaatkan fitur Instagram untuk mempromosikan budaya membaca dan berbagi informasi tentang buku. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para nano-mikro influencer Bookstagram di Indonesia, dengan meneliti motif mereka dalam mendorong perubahan sosial literasi, pengalaman emosional yang mereka rasakan, mengidentifikasi tantangan dalam mempromosikan literasi dan bagaimana mereka berperan sebagai agen pemasaran sosial untuk mendorong minat baca di Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz, dilakukan melalui wawancara mendalam kepada 15 bookstagrammer asal Indonesia, terdiri dari 5 influencer mikro dan 10 nano, dengan jumlah pengikut 2.000 hingga 10.000. Data juga diperoleh dari telaah literatur dan observasi pada komunitas Bookstagram. Temuan penelitian menunjukkan bahwa para influencer ini memainkan peran penting dalam memotivasi perubahan sosial literasi, memiliki motif pribadi seperti berbagi rekomendasi buku dan membangun kebiasaan membaca, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa nano-mikro Bookstagrammer memiliki potensi strategis sebagai agen pemasaran sosial dalam pengembangan gerakan literasi digital berbasis komunitas, sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi institusi pendidikan, penerbit, maupun komunitas literasi dalam merancang strategi peningkatan minat baca melalui media sosial. Abstract. Social media has created a virtual space that brings together various communities, one of which is Bookstagram, a community of book lovers and reviewers on Instagram. Influencers at the nano and micro levels utilize Instagram features to promote a culture of reading and share information about books. This study aims to explore the experiences of nano-micro Bookstagram influencers in Indonesia, by examining their motives in encouraging social literacy change, the emotional experiences they experience, identifying challenges in promoting literacy and how they act as social marketing agents to encourage reading interest on Instagram. The research method used is qualitative with the Alfred Schutz phenomenology approach, conducted through in-depth interviews with 15 bookstagrammers from Indonesia, consisting of 5 micro and 10 nano influencers, with a number of followers ranging from 2,000 to 10,000. Data were also obtained from literature studies and observations in the Bookstagram community. The research findings show that these influencers play an important role in motivating social literacy change, have personal motives such as sharing book recommendations and building reading habits, despite facing various challenges.
Copyrights © 2026