Penelitian ini bertujuan mengembangkan model integratif value upgrading kayu jati (Tectona grandis) kategori apkir (reject) melalui kombinasi teknik laminasi, pemesinan presisi berbasis Computer Numerical Control (CNC), dan pendekatan design thinking dalam perancangan furnitur. Latar belakang penelitian didasarkan pada tingginya selektivitas industri terhadap mutu visual dan dimensional kayu jati, yang menyebabkan sebagian material dengan sifat mekanis memadai dikategorikan sebagai apkir dan berpotensi mengalami downcycling. Metode penelitian menggunakan tahapan design thinking yang meliputi empathize, define, ideate, prototype, dan test, dengan produk nightstand sebagai media eksplorasi. Purwarupa dikembangkan melalui laminasi panel untuk homogenisasi dimensi material, integrasi CAD–CAM dalam pemesinan CNC untuk presisi bentuk, serta konstruksi furnitur konvensional. Pengujian dilakukan melalui evaluasi pengguna terhadap lima aspek—fungsional, mobilitas, estetika, persepsi nilai, dan keberlanjutan—dengan melibatkan 52 responden. Hasil menunjukkan bahwa evaluasi pengguna menghasilkan skor rata-rata sebesar 3,97–4,04 dari skala 5 pada seluruh aspek, yang mencerminkan tingkat penerimaan yang konsisten tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa model integratif yang dikembangkan mampu mentransformasikan keterbatasan material menjadi nilai desain, serta memperkuat potensi kayu jati apkir sebagai material furnitur dalam kerangka circular design.
Copyrights © 2026