Luka bakar merupakan masalah kesehatan yang berisiko menyebabkan infeksi sekunder, keterlambatan penyembuhan jaringan, dan komplikasi kulit. Lendir belut (Monopterus albus) dan lendir bekicot (Achatina fulica) diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah potensi biologis lendir belut dan lendir bekicot serta pengembangannya dalam formulasi gel topikal untuk terapi luka bakar. Metode yang digunakan adalah systematic literature review terhadap 18 artikel primer yang diperoleh dari PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, Scopus, Garuda, dan SINTA pada periode 2018–2026. Artikel yang dianalisis meliputi studi in vivo, in vitro, in silico, dan studi formulasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa lendir bekicot mengandung glycosaminoglycan, achasin, hyaluronic acid, dan heparan sulfate yang berperan dalam hidrasi jaringan, pembentukan kolagen, regenerasi matriks ekstraselular, dan re-epitelisasi. Sementara itu, lendir belut mengandung albumin, glikoprotein, lektin, dan antimicrobial peptides yang berkontribusi terhadap aktivitas antimikroba, proliferasi fibroblas, angiogenesis, dan regenerasi jaringan. Beberapa studi praklinis menunjukkan bahwa formulasi berbasis lendir belut maupun lendir bekicot berpotensi mempercepat penyembuhan luka dan luka bakar. Secara umum, lendir belut cenderung berperan pada fase inflamasi dan awal proliferasi, sedangkan lendir bekicot lebih dominan mendukung fase proliferasi dan remodeling jaringan. Dengan demikian, kedua biomaterial tersebut berpotensi sebagai kandidat bahan aktif formulasi gel topikal untuk terapi luka bakar. Namun, diperlukan penelitian lanjutan dan uji klinis untuk mengonfirmasi efektivitas serta keamanannya pada manusia.Kata Kunci: gel topikal, lendir bekicot, lendir belut, luka bakar, penyembuhan luka
Copyrights © 2026