Kemandirian finansial Bank Sampah Jongke Tengah di Kabupaten Sleman terhambat oleh keterbatasan literasi keuangan manajerial pengelola. Tata kelola keuangan organisasi saat ini masih bersifat reaktif dan spekulatif tanpa adanya pemisahan biaya operasional yang jelas, sehingga memicu risiko kerugian finansial akibat fluktuasi harga pasar sampah. Solusi strategis yang ditawarkan melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini adalah pelaksanaan pelatihan serta pendampingan kalkulasi margin kontribusi dan strategi volume produksi menggunakan analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit/CVP). Metode pelaksanaan program dilakukan secara partisipatif berbasis pemecahan masalah nyata melalui tiga tahapan terstruktur: tahap persiapan (audit kas riil dan penyusunan modul), tahap pelaksanaan (konstruksi perilaku biaya dan digitalisasi pencatatan kas sederhana), serta tahap evaluasi pasca-implementasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya dampak konkret berupa lompatan kompetensi manajerial pengelola yang signifikan dengan rata-rata peningkatan literasi sebesar 61.6% (skor pre-test 26.5% meningkat menjadi 88.1% pada post-test). Melalui pemodelan manajemen akuntansi ini, mitra berhasil merekonstruksi harga pokok produksi (HPP) riil sampah sebesar Rp 2.700,- per kilogram dan menentukan ambang batas titik impas (break-even-point/BEP) minimal sebesar 500 kilogram per bulan. Kesimpulan dari program pengabdian ini adalah bahwa intervensi akuntansi manajemen dengan konsep perilaku biaya (klasifikasi tetap dan variable), perhitungan harga pokok produk berbasis variable costing, serta proyeksi laba melalui analisis hubungan CVP mampu mentransformasikan pola pikir pengelola menjadi proaktif berbasis data keuangan internal demi menjamin keberlanjutan ekonomi organisasi di tingkat padukuhan.
Copyrights © 2026