Moderasi beragama dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu agenda strategis negara dalam menjaga stabilitas sosial dan kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia. Wacana tersebut diproduksi secara massif melalui lembaga pendidikan, media, birokrasi keagamaan, serta berbagai kebijakan pemerintah sebagai upaya menghadapi meningkatnya intoleransi, radikalisme, dan polarisasi sosial berbasis agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis moderasi beragama dalam perspektif teori hegemoni Antonio Gramsci dengan melihat bagaimana negara membangun konsensus sosial melalui produksi wacana keagamaan di ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui analisis berbagai literatur, jurnal ilmiah, buku, dan dokumen resmi pemerintah yang berkaitan dengan moderasi beragama dan teori hegemoni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya berfungsi sebagai proyek sosial-keagamaan dalam menjaga toleransi dan harmoni masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen hegemonik negara dalam membentuk pola keberagamaan masyarakat Indonesia. Dalam perspektif Gramsci, dominasi negara berlangsung melalui mekanisme persetujuan sosial (consent) dengan memanfaatkan institusi pendidikan, media, dan otoritas keagamaan untuk membangun legitimasi terhadap model keberagamaan tertentu yang dianggap sesuai dengan kepentingan nasional. Penelitian ini menegaskan bahwa relasi agama dan negara di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari praktik produksi wacana dan kepentingan kekuasaan yang bekerja di dalamnya. Kata Kunci: Moderasi Beragama, Hegemoni, Antonio Gramsci, Negara
Copyrights © 2026