Kehidupan modern yang kompleks membuat individu menghadapi berbagai persoalan psikologis, sosial, dan spiritual, dengan tingkat stres, kecemasan, dan krisis makna hidup yang terus meningkat. Layanan konseling konvensional yang berbasis paradigma sekuler seringkali tidak sesuai dengan pandangan Islam yang memandang manusia sebagai makhluk holistik yang terdiri dari jasmani, akal, dan ruh. Permasalahan pokok yang diangkat adalah kurangnya integrasi nilai-nilai agama dalam praktik konseling serta dominasi model Barat yang memisahkan aspek spiritual dan psikologis. Tujuan penelitian ini adalah menguraikan konsep, landasan, tujuan, prinsip, implementasi, tantangan, dan relevansi integrasi nilai Islam dalam layanan konseling, serta mengidentifikasi contoh aplikasi praktis di berbagai konteks. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji sumber-sumber primer (Al-Qur’an, Hadis) dan sekunder (karya akademik, buku referensi) tentang konseling Islami. Hasil utama menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dilakukan melalui penerapan prinsip tauhid, akhlak, tazkiyatun nafs, pendekatan spiritual Qur’ani, serta pemanfaatan doa dan dzikir sebagai bagian dari terapi. Konselor Muslim berperan sebagai profesional psikologis dan pembimbing spiritual, dengan tantangan utama berupa kurangnya literatur, dominasi teori Barat, dan minimnya pelatihan yang dapat diatasi melalui pengembangan kurikulum, kolaborasi interdisipliner, dan dukungan institusional. Kesimpulan singkat menyatakan bahwa konseling Islami relevan di era modern karena memberikan keseimbangan antara sains dan spiritualitas, membangun makna hidup yang lebih dalam, serta membantu individu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Copyrights © 2026