Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif menuntut struktur gedung tinggi, seperti Gedung X (12 lantai), untuk memiliki sistem penahan gaya lateral yang andal guna mengontrol kerusakan bangunan. Analisis struktur linear-elastis konvensional memiliki keterbatasan karena tidak mampu memprediksi urutan terjadinya pelelehan elemen secara akurat saat gempa kuat terjadi. Penggunaan Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) secara tunggal (Bare Model) sangat rentan terhadap simpangan antar tingkat yang ekstrem dan ketidakstabilan global akibat efek P-Delta. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja seismik Bare Model dengan membandingkan enam variasi penempatan dinding geser (shear wall), serta menentukan efektivitasnya terhadap kapasitas geser dasar, kekakuan lateral, dan mekanisme sendi plastis berdasarkan kriteria ATC-40. Pemodelan dan analisis dilakukan menggunakan metode Pushover berbantuan perangkat lunak ETABS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur eksisting (Bare Model) tertahan pada level kinerja Damage Control (DC) dengan target perpindahan 599,09 mm pada arah Y. Dari keenam modifikasi, Variasi 2 (kombinasi sisi luar dan interior sumbu Y) ditetapkan sebagai konfigurasi paling optimal. Variasi 2 mampu meningkatkan level kinerja bangunan menjadi Immediate Occupancy (IO), meningkatkan gaya geser dasar hingga 32.980,93 kN (arah Y), dan mereduksi simpangan maksimal menjadi 68,86 mm. Rasio torsinya stabil pada angka 1,132 (memenuhi batas aman < 1,2). Distribusi sendi plastis pada model ini menunjukkan tercapainya mekanisme daktail Strong Column-Weak Beam, tanpa mengganggu fungsionalitas ruang arsitektural gedung. Kata kunci: kinerja seismik, pushover, shear wall, ATC-40, sendi plastis, performance level.
Copyrights © 2026