Pada tata ibadah Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua pada minggu ke empat yaitu menggunakan tata ibadah kontekstual, banyak menampilkan konteks budaya dari masing-masing suku. Yang menjadi tantangan pada ibadah kontekstual GKI di Tanah Papua Khusunya di Klasis Sarmi Barat adalah minimnya ekspresi budaya yang di tampilkan. Hal ini, disebabkan karena pendekatan teologia yang dipakai oleh zendeling dulu bersikap radikal terhadap budaya atau adat karena adat disamakan dengan kekafiran “Kristus melawan Kebudayaan”. Suku Tapea di Kabupaten Sarmi khusunya Kampung Samorkena juga mengalami tekanan pada adat dan budayanya, salah satunya seruling “Ibrisia”. Artikel ini membahas asal-usul seruling “Ibrisia”, peruntukan penggunaanya, serta mengkaji dari sisi teologis agar dapat diinkulturasi pada ibadah kontekstual di minggu ke empat. Metode yang digunakan adalah kualitatif, kajian pustaka, observasi dan wawancara. Seruling “Ibrisia” melambangkan perdamain, keteraturan, penghormatan pada sang pencipta, penyembuhan, dan berkat. Seruling “Ibrisia” dapat di pakai pada Ibadah kontekstual di minggu ke empat pada tata Ibadah GKI di Tanah Papua. Namun masih ada tantangan dan perlu dikritisi secara teologis dan dialog yang mendalam Bersama Masyarakat.
Copyrights © 2026