Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa slang di media sosial pada kalangan remaja, khususnya Generasi Z, sebagai salah satu fenomena kebahasaan yang terus mengalami perkembangan di era digital. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan YouTube memberikan pengaruh yang besar terhadap pola komunikasi serta cara remaja mengekspresikan diri.. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis fenomena penggunaan bahasa slang dalam komunikasi daring. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dengan mengamati caption, komentar, dan percakapan pada berbagai platform media sosial. Selanjutnya, data yang diperoleh diklasifikasikan dan dianalisis berdasarkan bentuk bahasa serta fungsi komunikatifnya. Fokus penelitian ini meliputi beberapa jenis bahasa slang, seperti kata serapan dari bahasa asing, akronim, variasi leksikal, dan pergeseran makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa slang di kalangan remaja memiliki sifat yang dinamis dan dipengaruhi oleh perkembangan globalisasi, budaya populer, serta tren di internet. Beberapa istilah slang yang sering digunakan dalam komunikasi media sosial di antaranya slay, effort, gwenchana, mager, baper, dan murce. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk berbagai tujuan, seperti mengekspresikan emosi, memperkuat identitas kelompok, mempermudah komunikasi, menunjukkan keterlibatan dalam budaya digital, serta mencerminkan kreativitas dalam berbahasa. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa slang juga mencerminkan perubahan sosial, budaya, dan teknologi dalam kehidupan remaja. Oleh sebab itu, penggunaan bahasa slang di media sosial dapat dikatakan telah menjadi bagian penting dalam komunikasi modern remaja dan akan terus berkembang mengikuti perubahan tren digital.
Copyrights © 2026