METANA
Vol 22, No 1 (2026): Juni 2026

Studi Komparatif Adsorben Sekam Padi Terkalinasi Furnace dan Microwave Untuk Reduksi FFA Jelantah

Rosmawati Sipayung (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Rahma Amalia (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Rara Ayu Lestary (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Nita Widyastuti (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Oki Alfernando (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Ira Galih Prabasari (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Putri Ananda (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)
Intan Nandia Sakti (Teknik Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Jambi)



Article Info

Publish Date
30 Jun 2026

Abstract

Minyak jelantah merupakan limbah domestik dan industri pangan yang berpotensi mencemari lingkungan serta memiliki kadar asam lemak bebas (Free Fatty Acid/FFA) tinggi sehingga menurunkan kualitas dan efisiensi konversinya menjadi biodiesel. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar FFA adalah proses adsorpsi menggunakan material berbasis biomassa, seperti sekam padi. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas adsorben sekam padi hasil kalsinasi menggunakan furnace konvensional dan microwave digestion (MD) dalam menurunkan kadar FFA minyak jelantah. Sekam padi dikalsinasi pada suhu 500 °C selama 4 jam menggunakan furnace dan menggunakan microwave digestion selama total 15–20 menit (heat time 3–7 menit dan hold time 8–15 menit) pada suhu 120–140 °C dan tekanan 2–6 bar. Proses adsorpsi dilakukan dengan variasi massa adsorben (1–5%), suhu (30–60 °C), dan waktu kontak (30–90 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode microwave digestion mampu menurunkan kadar FFA dari 3,10% menjadi 1,22% dengan efisiensi reduksi sebesar 60,65%, sedangkan metode furnace menghasilkan efisiensi reduksi sebesar 53,23%. Analisis FTIR menunjukkan bahwa adsorben hasil MD memiliki intensitas gugus silanol (Si–OH) yang lebih tinggi, yang berperan dalam pembentukan ikatan hidrogen dengan gugus –COOH dari FFA. Secara keseluruhan, metode microwave digestion menghasilkan adsorben dengan morfologi lebih halus, mengindikasikan luas permukaan lebih besar, dan aktivitas kimia yang lebih tinggi, sehingga berpotensi diterapkan sebagai teknologi pemurnian minyak jelantah yang cepat, hemat energi, dan ramah lingkungan.

Copyrights © 2026