Sindrom nyeri miofasial merupakan salah satu penyebab tersering nyeri muskuloskeletal, terutama pada otot postural seperti upper trapezius. Dua modalitas terapi yang banyak digunakan adalah dry needling dan kinesio taping, namun bukti perbandingan efektivitasnya masih terbatas. Studi ini bertujuan membandingkan efektivitas terapi jangka pendek dry needling dan kinesio taping pada upper trapezius MPS melalui tiga parameter yaitu visual analog scale (VAS), pressure pain threshold (PPT), dan neck disability index (NDI). Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas keduanya dalam jangka pendek. Studi dilakukan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian studi RCT dilakukan melalui database Pubmed, Google Scholar, Cochrane, Scopus, dan Epistemonikos, serta dibatasi dalam 10 tahun terakhir. Setiap studi dinilai kelayakannya menggunakan ROB-2. Random-effect model digunakan untuk menghitung standardized mean differences (SMDs) dengan 95% confidence intervals (CIs) dan dianalisis menggunakan RevMan 5.4.1. Dari 66 studi, terdapat 8 studi RCT yang di inklusi dalam studi ini. Hasil pooled analysis menunjukkan dry needling memberikan tren penurunan nyeri dalam terapi jangka pendek dibandingkan kinesio taping pada upper trapezius MPS meskipun tidak signifikan secara statistik, baik pada VAS (SMD = −0.11; 95% CI: −0.34 hingga 0.12; p = 0.36), PPT (SMD = 0,03; 95% CI: −0,24 hingga 0,3), dan NDI (SMD = −0,27; 95% CI:0,74 hingga 0,2). Dalam jangka pendek (4–12 minggu), tidak terdapat perbedaan signifikan antara dry needling dan kinesio taping terhadap VAS, PPT, dan NDI pada pasien dengan sindrom nyeri miofasial otot upper trapezius. Keduanya merupakan pilihan terapi non-farmakologis yang efektif, namun diperlukan uji klinis lanjutan dengan metodologi lebih kuat dan tindak lanjut jangka panjang.
Copyrights © 2026