Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang banyak terjadi pada kelompok lanjut usia dan berkontribusi terhadap meningkatnya angka morbiditas serta mortalitas. Selain faktor biologis, kondisi psikologis seperti stres juga diduga berperan dalam memengaruhi peningkatan tekanan darah pada lansia. Stres yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatik yang berdampak pada peningkatan denyut jantung dan penyempitan pembuluh darah sehingga memengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Puskesmas Cibeureum Kota Cimahi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional melalui metode cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia penderita hipertensi yang tercatat di Puskesmas Cibeureum tahun 2025 sebanyak 819 orang, dengan sampel 89 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat stres diukur menggunakan instrumen Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres sedang hingga berat sebanyak 75 orang (84,3%), sedangkan stres ringan sebanyak 14 orang (15,7%). Berdasarkan kategori tekanan darah, mayoritas responden berada pada hipertensi tingkat 1 sebanyak 54 orang (60,7%) dan hipertensi tingkat 2 sebanyak 35 orang (39,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi dengan nilai p = 0,007 (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat stres memiliki hubungan dengan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi, sehingga pengelolaan hipertensi perlu memperhatikan aspek psikologis selain aspek medis.
Copyrights © 2026