Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu sekitar 34,2%. Penyakit ini bersifat mudah menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, yang merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita. Dalam praktik klinis, penggunaan antibiotik pada kasus ISPA masih sering dilakukan meskipun tidak selalu berdasarkan indikasi yang tepat. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik serta efek samping terapi, sehingga evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik menjadi penting untuk menjamin efektivitas pengobatan dan keselamatan pasien. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data rekam medis pasien balita yang terdiagnosis ISPA di Puskesmas Batu tahun 2025. Sampel penelitian berjumlah 72 pasien. Evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik dilakukan berdasarkan parameter ketepatan pasien, indikasi, obat, dosis, interval, dan durasi pemberian dengan menggunakan metode Gyssens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketepatan indikasi dan pemilihan obat mencapai 81,9%, ketepatan dosis dan interval sebesar 73,6%, serta ketepatan durasi pemberian sebesar 70%. Evaluasi menggunakan metode Gyssens menunjukkan bahwa 73,6% penggunaan antibiotik termasuk kategori rasional, sedangkan 5,6% tidak tepat dosis, 2,8% diberikan terlalu lama, dan 18,1% tanpa indikasi yang jelas. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik pada pasien ISPA balita di Puskesmas Batu telah memenuhi prinsip rasionalitas terapi. Namun, masih diperlukan peningkatan kepatuhan terhadap pedoman terapi antibiotik melalui edukasi tenaga kesehatan dan monitoring penggunaan antibiotik secara berkala guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Copyrights © 2026