Delirium merupakan gangguan neurokognitif akut yang sering terjadi pada pasien kritis di Intensive Care Unit (ICU) dan berisiko menimbulkan dampak serius seperti peningkatan mortalitas, perpanjangan lama rawat, serta penurunan fungsi kognitif jangka panjang apabila tidak dicegah secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan pencegahan yang komprehensif dan berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas intervensi pencegahan delirium pada pasien ICU. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan PRISMA melalui penelusuran artikel pada database PubMed menggunakan kerangka PICOS. Artikel yang direview merupakan penelitian primer dengan desain randomized controlled trial dan quasi-eksperimental yang dipublikasikan pada tahun 2020–2025 serta memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nonfarmakologis multikomponen seperti penerapan ABCDEF bundle, mobilisasi dini, manajemen tidur, reorientasi pasien, dan keterlibatan keluarga memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan insiden dan durasi delirium, pengurangan lama penggunaan ventilasi mekanik, serta perbaikan luaran klinis pasien kritis. Pendekatan berbasis bundle juga meningkatkan kualitas perawatan melalui pengelolaan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Intervensi farmakologis seperti melatonin belum menunjukkan efektivitas yang konsisten, sedangkan ramelteon memiliki potensi manfaat terbatas. Penerapan ABCDEF bundle secara terstruktur terbukti lebih efektif dibandingkan intervensi tunggal karena mampu mengatasi berbagai faktor risiko delirium secara komprehensif. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa ABCDEF bundle merupakan intervensi paling efektif dan direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam praktik keperawatan kritis sebagai upaya pencegahan delirium pada pasien ICU.
Copyrights © 2026